News: 50 Persen Asuransi Syariah Coba Terapkan PSAK 108

JAKARTA — Baru sekitar 50 persen perasuransian syariah yang mencoba menyusun laporan keuangan sesuai Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) 108 untuk akuntansi transaksi asuransi syariah. Hal ini terkait laporan keuangan perasuransian pada Maret 2010 harus mengikuti laporan PSAK yang baru. Demikian disampaikan Kepala Biro Perasuransian Bapepam LK, Isa Rachmatawarta. Ia mendorong industri asuransi dan reasuransi syariah untuk memperhatikan akan diterapkannya PSAK 108 tahun depan.

Ini memang harus hati-hati karena beberapa perusahaan memang akan mengalami permasalahan sovabilitas dalam menerapkannya,” kata dia dalam acara insurance outlook 2010 di Hotel Le Meridien, Selasa (24/11). Bagaimanapun, katanya, masih ada waktu untuk membimbing perusahaannya untuk siap, sebelum PSAK 108 benar-benar diterapkan. Ia juga berharap pelaku asuransi syariah sudah memulai pemisahan dana tabarru dan dana perusahaan dari sekarang dan tidak menunggu hingga batas waktu yang diberikan.

Wacana ini, menurutnya, dilemparkan untuk melihat kembali risk factor untuk perhitungan risk based capital. “Tapi tak usah dibayangkan ada perubahan di Januari 2010. Sekurang-kurangnya 6-12 bulan, akan ada perubahan itu,” katanya. Maka, ia menekankan, masih bisa dipersiapkan. Sebab, kata dia, Industri asuransi syariah harus sudah memulai penerapan. “Yang jelas kami akan mulai mendiskusikan terkait aturan risk based capital tersebut,” katanya.

Beberapa waktu silam, Direktur Utama Asuransi Syariah Mubarakah, Salim Al Bakry, mengatakan dalam penerapan PSAK 108 perusahaan asuransi syariah memerlukan waktu penyesuaian. “Kami sebagai pelaku akan mengikuti regulasi yang ada. Namun untuk peraturan baru kita kan perlu masa transisi karena yang dulunya dana dicampur sekarang harus pisah jadi perlu ada penyesuaian. Pemerintah pun memberi tenggat waktu,” kata Salim.

Ia menambahkan pihaknya pun sudah mulai melakukan simulasi terhadap penerapan PSAK tersebut. Salim menuturkan penerapan PSAK 108 di industri asuransi syariah memiliki tujuan baik karena untuk melindungi dana yang ada di industri asuransi syariah. Namun selain mengharuskan pemisahan dana, penghitungan risk based capital (RBC) juga didasari dari jumlah dana tabarru.

Karenanya hal tersebut membuat asuransi syariah harus mengantisipasi adanya penguatan modal. Pasalnya RBC asuransi syariah minimum harus 120 persen. Dalam mengantisipasi hal itu, jelas Salim, bisa jadi penguatan modal bagi Asuransi Syariah Mubarakah, tetapi ia enggan mengungkapkan apakah akan ada tambahan modal bagi asuransi syariah nasional itu. Pasalnya hal tersebut tergantung pada keputusan para pemegang saham.

Selain itu, Isa menjelaskan dalam bidang syariah, banyak harapan akan adanya suatu perundang-undangan khusus. Dengan waktu transisi yang cukup, katanya, kita bermaksud mendorong syariah agar full syariah. “Ini yang mungkin akan tergambar dalam rancangan UU,” kata dia. Bapepam pun, kata dia, akan menekankan status legal dari dana-dana nasabah yang dikelola oleh perusahaan asuransi syariah. “Dalam peraturan harus disebutkan secara spesifik untuk memisahkan dana tersebut,” katanya.

Terkait RUU usaha perasuransian, kata Isa, yang akan diperhatikan selanjutnya yakni ketentuan-ketentuan yang terkait dengan pemerintah. Kemudian masalah kesehatan keuangan. Hal-hal yang tadinya diatur oleh menkeu atau pemerintah akan ada dan diatur dalam RUU. Selain itu harus juga, kata dia, suatu perusahaan memiliki mekanisme untuk meng-handle keluhan masyarakat.

Point terakhir yang penting dalam RUU, kata dia, yakni exit strategy. Yakni terkait bagaimana menghandle perusahaan yang harus keluar dari industri perasuransian. “Termasuk likuidasi didalamnya,” kata dia.

Termasuk juga pencabutan izin usaha tanpa ada aturan-aturan spesifik. Hal ini, kata dia, seringkali menimbulkan dilema. Pasalnya, kata dia, jika dicabut maka regulator akan lepas tangan. Karena, menurutnya, tak ada regulator yang mengurusi proses likuidasi. “Ini kami harapkan diatur dalam perundang-undangan,” katanya. Dengan demikian ini diharapkan lebih cepat untuk mengurangi dampak kerugian bagi nasabah. min/taq

Sumber: Republika, Selasa, 24 November 2009, 12:34 WIB

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s